fbpx

Fungsi Epididimis Yang Ada Pada Sistem Reproduksi Pria

Bagikan Artikel ini:

Fungsi Epididimis Yang Ada Pada Sistem Reproduksi Pria

Epididimis merupakan struktur di dalam skrotum yang melekat pada bagian belakang testis dan memanjang hingga ke vas deferens.

Fungsi Epididimis adalah untuk menahan testis di tempatnya dan menyimpan sperma selama dalam proses pematangan. Struktur epididimis terdiri dari kaput atau kepala, korpus atau badan, dan kauda atau ekor.

Sperma yang diproduksi testis akan masuk ke kaput epididimis melalui korpus dan berhenti pada kauda untuk disimpan. Ketika sperma keluar berjalan ke kauda, mereka belum dapat berenang dan membuahi sel telur. Ketika mencapai kauda, mereka telah bisa membuahi sel telur. Sperma akan ditransfer kepada vesikula seminalis melalui vas deferens. Sperma belum dapat berenang sehingga membutuhkan kontraksi otot untuk dapat mendorong mereka ke vesikula seminalis, di mana mereka akan mencapai kematangan penuh.

Fungsi Epididimis juga sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens. Sperma di dalam epididimis selama 1-3 minggu dan selama waktu ini terjadi perubahan dalam penampilan, kemampuan gerak, ukuran besarnya, daya tembus, membran, kepekaan terhadap suhu, dan fungsi metabolisme. Peranan epididimis dalam menunjang pemasakan sperma tergantung dari androgen, dan sel-sel epitel torak utama yang melapisi epididimis membutuhkan androgen untuk memelihara bentuk maupun fungsi sekresi dan absropsi.

Fungsi Epididimis

Penyakit yang Menyerang Fungsi Epididimis

 

Penyakit epididimis

Epididimitis merupakan peradangan pada epididimis atau saluran sperma yang terletak pada belakang testis. Penyakit ini dapat menyerang pria berbagai usia. Tapi paling sering menyerang pria berusia 19 hingga 35 tahun. Apabila peradangan yang terjadi sudah menyebar sampai ke testis, kondisi ini dikenal dengan epididymo-orchitis.

Orang yang berganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tak aman, berisiko terinfeksi penyakit menular seksual. Bakteri yang menjadi penyebab PMS ini juga akan menyebabkan gangguan Fungsi Epididimitis.

Epididimitis kronis

Epididimitis kronis adalah epididimitis yang terjadi selama lebih dari enam minggu. Epididimitis kronis ditandai oleh peradangan bahkan ketika tidak hadir suatu infeksi. Pengujian diperlukan untuk membedakan antara epididimitis kronis dengan berbagai gangguan lain yang dapat menyebabkan nyeri skrotum konstan.Kondisi seperti ini sangatlah paraah. Ini termasuk kanker testis, urat skrotum membesar (varikokel), dan kista dalam epididimis. Selain itu, saraf-saraf di daerah skrotum yang terhubung ke perut kadang-kadang menyebabkan sakit mirip hernia. Kondisi ini dapat berkembang bahkan tanpa adanya penyebab yang telah dijelaskan sebelumnya.

Dalam kondisi seperti ini, diperlukan perawatan yang mungkin agak lama. Hal ini dikarenakan terdapat hipersensitivitas struktur tertentu, termasuk saraf dan otot, yang dapat menyebabkan atau berkontribusi pada epididimitis kronis. Prosedur yang disebut cord block (blok kabel) mungkin diperlukan. Ini terdiri dari suntikan ke saraf sepanjang epididimis. injeksi adalah gabungan dari beberapa obat termasuk steroid, pembunuh rasa sakit, dan anti-inflamasi dosis tinggi.

Perawatan ini dapat mengatasi rasa sakit selama 2-3 bulan dalam kondisi ideal. Beberapa pasien mungkin hanya mengalami durasi (sakit) lebih pendek 2-3 hari, sedangkan pasien-pasien lain mungkin tidak mengalami sakit. Prosedur ini, tentu saja harus diulang, bila perlu sampai masalah hilang sepenuhnya (atau sampai rutinitas yang terlalu mengganggu). Sebagai usaha terakhir, pasien dapat memutuskan untuk menghilangkan epididimisnya samasekali.

Faktor Peningkatan Resiko Epididimitis

Yang bisa meningkatkan risiko terkena epididimitis adalah:

  • Pernah mengalami infeksi prostat ataupun infeksi saluran kemih.
  • Pembesaran prostat.
  • Pria yang belum disunat.
  • Pernah menjalani prosedur medis yang dapat memengaruhi saluran urine.
  • Letak anatomis saluran kemih tidak normal.

Gejala Epididimitis

Sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita disebut dengan gejala. Beberapa gejala yang akan dirasakan jika menderita epididimitis adalah:

  • Nyeri pada testis, di salah satu satu sisi. Testis juga terasa sakit saat disentuh.
  • Skrotum membengkak, hangat, terasa sakit saat di sentuh, atau kemerahan.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Darah pada cairan sperma.
  • Muncul benjolan di sekitar testis disebabkan penumpukan cairan.
  • Sering ingin buang air kecil tapi selalu merasa tidak tuntas.
  • Nyeri saat ejakulasi atau berhubungan seksual.
  • Ujung penis mengeluarkan cairan yang tak normal, biasanya terkait pada penyakit menular seksual.
  • Pembesaran kelenjar getah bening pangkal paha.

Jika tak kunjung membaik selama lebih dari enam minggu, maka ini disebut epididimitis kronis. Gejala pada epididimitis kronis bisa muncul bertahap. Segera konsultasi dengan dokter bila skrotum terasa sakit, cairan tak normal keluar dari penis, atau nyeri ketika buang air kecil.

Penyebab Epididimitis

Epididimitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Pada kebanyakan kasus epididimitis, infeksi diawali pada uretra, prostat atau kandung kemih. Bakteri penyebab epididimitis pada anak-anak serta orang tua maupun kaum homoseksual yaitu E.coli serta bakteri sejenisnya. Beberapa penyebab epididimitis adalah:

  • Infeksi pada saluran kemih. Kondisi di mana terjadi infeksi bakteri yang telah menyerang bagian sistem saluran kemih.
  • Epididimitis Kimia, kondisi di mana urine mengalir kembali ke epididimis. Ini dikarenakan tubuh yang terlalu meregang ataupun mengangkat barang berat.
  • Mumps ataupun gondongan.
  • Amiodarone, atau salah satu jenis obat jantung yang dapat menyebabkan peradangan pada fungsi epididimis.
  • Penyakit menular seksual, seperti gonorea dan klamidia biasanya jadi penyebab epididimitis pada pria yang aktif seksual.
  • Infeksi lain, khususnya anak laki-laki dan pria yang tak aktif secara seksual. Baik dari infeksi kelenjar prostat ataupun infeksi saluran kemih.
  • Cedera di bagian selangkangan.
  • Penyakit Behḉet danTuberkulosis.

Pada pria aktif secara seksual, Chlamydia trachomatis bertanggung jawab untuk dua-pertiga kasus, diikuti oleh Neisseria gonorrhoeae dan E. coli (atau bakteri lainnya yang menyebabkan infeksi saluran kemih). Mikroba umum lainnya yaitu Ureaplasma, Mycobacterium, dan sitomegalovirus, bisa juga Cryptococcus pada pasien dengan infeksi HIV. E.coli lebih sering terjadi pada anak laki-laki sebelum pubertas, orang tua dan homoseksual.

penyebab non-infeksi juga mungkin. Reflux of sterile urine (urine tanpa bakteri) melalui saluran-saluran ejakulatorius dapat menyebabkan radang. Pada anak-anak, ini mungkin merupakan respon setelah infeksi dengan enterovirus, adenovirus atau Mycoplasma pneumoniae.

Epididimitis juga bisa disebabkan oleh operasi Genital-kemih, termasuk prostatektomi dan kateterisasi urin. Epididimitis kongestif merupakan komplikasi jangka panjang dari vasektomi. Epididimitis karena zat kimia mungkin juga akibat dari obat-obatan seperti amiodarone.

Pengobatan Penyakit Epididimitis

Beberapa langkah penanganan yang biasanya dijalankan dokter untuk mengobati epididimitis adalah:

  • Obat antibiotik. Jika penyebab epididimitis adalah infeksi bakteri, maka dokter akan meresepkan antibiotik. Selain antibiotik, ibuprofen mungkin akan diberikan untuk meredakan inflamasi.
  • Obat pereda nyeri dan istirahat. Selain antibiotik, dokter mungkin juga akan meresepkan obat pereda nyeri. Penderita juga disarankan untuk beristirahat. Usahakan untuk berbaring di ranjang dengan skrotum terangkat untuk membantu meredakan nyeri. Gunakan penopang skrotum jika perlu. Kompres skrotum dengan kompres dingin.
  • Pembedahan. Jika sudah berlanjut menjadi abses, maka penderita perlu tindakan pembedahan untuk menyedot cairan nanah yang terkumpul. Kadang, seluruh bagian epididimis perlu diangkat melalui prosedur pembedahan

Maka dari itu alangkah baiknya jika mengalami Penyakit yang satu ini segeralah ke dokter,bila terlalu parah maka pembedahan adalah solusinya. Semoga bermanfaat.

Bagikan Artikel ini:
error: Content is protected !!